Kamis, 04 Desember 2008

KMB-LLA

   
LAPORAN PENDAHULUAN

LEUKEMIA LYMPHOBLASTIK AKUT (LLA)

DI RUANG MURAI I

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARIFIN ACHMAD PEKANBARU


 





OLEH:

ERNI NOVRIANI, S.Kep
0811465770

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2008

LEUKEMIA LYMPHOBLASTIK AKUT (LLA)

A. DEFENISI
Leukemia adalah gangguan maligna darah dan sumsum tulang yang menyebabkan akumulasi sel darah putih imatur yang mengalami disfungsi di dalam sumsum tulang, darah perifer, jaringan tubuh jika limfosit yang menjadi sel maligna bersifat predominan, maka gangguan tersebut disebut Leukemia Lymphositik Akut (LLA) (Nettina, 2002:439).
Leukemia Lymphoblastik Akut (LLA) adalah proliferasi blastosit (sel darah yang masih muda) dari sumsum tulang yang dapat berasal dari system myeloid maupun system limfosit (M. Nurs, dkk 2005: 134).

B. ETIOLOGI
Penyebab dari LLA sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Beberapa factor predisposisi yang dapat mempengaruhinya adalah infeksi, virus, radiasi seperti radiasi ionisasi, terapi radiasi, kimia dan obat-obatan imunosupresif dan karsinogenik serat penyakit congenital atau kelainan kromosom seperti Sindrom Down (Behrman, dkk, 2000:1963).
Factor keturunan dan lingkungan juga dapat mempengaruhi trjadinya LLA. Terpapar sinar X pada ibu hamil muda juga dapat menimbulkan risiko terjadinya kanker pada janin yang dikandungnya. Factor genetic yang disebabkan oleh virus tertentu juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (M. Nurs, dkk, 2005: 134).

C. PATOFISIOLOGI
Leukemia ditandai oleh proliferasi dari sel hematopoitik yang imatur. Setelah trasnformasi maligna dari sebuah progenitor hematopoitik akan diikuti oleh replikiasi sel dan ekspansi klon yang mengalami transformasi tersebut. Pada LLA karakteristiknya ditandai pada defek pematangan setelah tingkat limfoblas. Sel leukemia yang berproliferasi menumpuk di sumsum tulang, menekan hematopoisis normal dan menyebabkan unsure normal tersingkir. Berkurangnya unsure normal akan menyebabkan terjadinya anemia, infeksi dan penyulit perdarahan karena eritrisit, leukosit dan factor pembekuan menurun. Sel leukemia yang secara primer berproliferasi di sumsum tulang, beredar dalam darah sehingga terjadi depresi sumsum tulang, infiltrasi ekstramedular dan infiltrasi pada susunan saraf pusat (SSP) serta gangguan metabolisme sel. Dampaknya akan menyebabkan terjadinya pembesaran pada limfa, hati, tulang, menyebabkan meningitis dan sel kekurangan makanan (Behrman, 2000: 1963).

D. MANIFESTASI KLINIS
• Filek yang tidak sembuh-sembuh
• Pucat, lesu, mudah terstimulasi
• Demam
• Anoreksia dan berat badan menurun
• Ptechie, memar tanpa sebab
• Nyeri tulang dan persendian
• Nyeri abdomen
• Limphadenophaty
• Hepatosplenomegaly
(Suriadi & Yulianni, 2006: 162)

E. EVALUASI DIAGNOSTIK
• Jumlah sel darah putih 1000/mm3 sampai dengan 100.000/mm3 . Pemeriksaan darah tepi terdapat limfoblas dan limfosit yang imatur.
• Anemia berat dapat terjadi karena penurunan hemoglobin dan hematokrit.
• Aspirasi dan biopsy sumsum tulang, untuk mengklarifikasi leukemia dan untuk memeriksa adanya abnormalitas kromosom dan tanda-tanda imunologis.
• Biopsy nodus limfe, untuk mendeteksi penyebaran penyakit.
• Punksi lumbal, untuk mendeteksi sel-sel leukemik dan apakah SSP terinfiltrasi.
(Nettina, 2002: 440)
 
F. PENATALAKSANAAN
1. Program Terapi
a. Memperbaiki keadaan umum dengan transfusi sel darah merah padat (Pocket Red Cell-PRC) untuk mengatasi anemia. Apabila terjadi perdarahan hebat dan jumlah trombosit kurang dari 10.000/mm3, diperlukan transfusi trombosit (M. Nurs, dkk, 2005: 136).  
b. Terapi radiasi terutama pada SSP.
c. Transplantasi sumsum tulang autolog atau autogenic (Nettina, 2002:440).
2. Pengobatan
a. Kemoterapi
• Induksi, untuk mencapai remisi. Obat yang diberikan untuk mengatasi Ca (kanker). Diberikan 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Obat diberikan secara kombinasi dengan maksud untuk mengurangi sel-sel blastosit sampai 5 %, sehingga dapat mengurangi gejala yang tampak. Diberikan terapi kortikosteroid ( Prednison).
• Profilaksis SSP, diberikan terapi Hydrokortison untuk mencegah invasi sel leukemia ke otak.
• Konsolidasi, diberikan kombinasi pengobatan untuk mempertahankan dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh.
(Suriadi & Yulianni, 2006: 162)
b. Antibiotic untuk mencegah infeksi.
c. Analgesic dan antipiretik.


G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Aktivitas 
Gejala : Kelelahan, malaise, kelemahan.
Tanda : Kelelahan otot, peningkatan kebutuhan tidur.
b. Sirkulasi 
Gejala : Palpitasi
Tanda : Takikardia, murmur jantung. 
  Kulit , membrane mukosa pucat
  Tanda perdarahan serebral
c. Eliminasi
Gejala : Diare, nyeri tekan perianal
  Feses hitam
  Darah pada urine, penurunan haluaran urine
d. Integritas Ego
Gejala : Perasaan tak berdaya
Tanda : Menarik diri, marah
e. Makanan / cairan
Gejala : Kehilangan napsu makan, anoreksia, muntah.
  Perubahan rasa.
  Penurunan berat badan.
  Faringitis, disfagia.
Tanda : Distensi abdominal, penurunan bunyi usus.
  Splenomegali, hepatomegali.
  Stomatitis, ulkus mulut, hipertrofi gusi.
f. Neurosensori
Gejala : Penurunan koordinasi.
  Pusing, kebas, kesemutan, parastesia.
Tanda : Otot mudah terangsang, aktivitas kejang.
g. Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang/sendi, kram otot.
Tanda : Distraksi, gelisah.
h. Pernapasan
Gejala : Napas pendek.
Tanda : Dispnea, takipnea.
  Batuk, ronki, penurunan bunyi napas.
i. Keamanan
Gejala : Riwayat infeksi, perdarahan.
Tanda : Demam, infeksi.
  Kemerahan, purpura, perdarahan gusi, epistaksis.
  Pembesaran nodus limfe, limpa, hati karena invasi jaringan.
(Doenges dkk, 2000: 596)
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian kemoterapi.
c. Gangguan rasa: nyaman nyeri berhubungan dengan dilakukannya pemeriksaan diagnostic, efek fisiologis neoplasma.
d. Risiko infeksi berhubungan dengan menurunnya system pertahanan tubuh.
e. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
f. Risiko injury: perdarahan factor pembekuan.
g. Berduka berhubungan dengan kehilangan actual dan potensial.
h. Gangguan pemenuhan kebutuhan aktivitas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan.
(Suriadi & Yulianni, 2006: 163) 
3. Intervensi Keperawatan
a. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
• Berikan dorongan pada orang tua untuk tetap rilek pada saat anak makan.
• Izinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak.
• Rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
• Berikan makanan yang diserta suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.
• Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan pemilihan makanan.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian kemoterapi.
• Kaji secara dini tanda-tanda kerusakan integritas kulit.
• Berikan perawatan kulit khususnya daerah perianal dan mulut.
• Anjurkan untuk sering ganti posisi.
• Anjurkan intake dengan kalori dan protein yang adekuat.
c. Gangguan rasa: nyaman nyeri berhubungan dengan dilakukannya pemeriksaan diagnostic, efek fisiologis neoplasma.
• Kaji tingkat nyeri dengan skala nyeri.
• Kaji adanya kebutuhan klien untuk mengurangi nyeri.
• Berikan teknik mengurangi nyeri non farmakologi.
• Berikan obat untuk mengurangi nyeri sesuai indikasi.
d. Risiko infeksi berhubungan dengan menurunnya system pertahanan tubuh.
• Gunakan teknik aseptic untuk seluruh prosedur invasive.
• Monitor tanda-tanda vital anak.
• Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi.
• Berikan nutrisi yang adekuat
• Monitor penurunan jumlah leukosit.
• Kolaborasi untuk pemberian antibiotic. 
e. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
• Anjurkan minum  6-8 gelas/hari.
• Hindarkan memberikan makanan yang beraroma merangsang.
• Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering.
• Berikan antiemetik sebelum tindakan kemoterapi.
• Kolaborasi pemberiaan cairan infuse untuk mempertahankan hidrasi.
f. Risiko injury: perdarahan factor pembekuan.
• Evaluasi kulit dan membrane mukosa.
• Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan.
• Kaji adanya tanda-tanda terlibatnya SSP seperti sakit kepala, penglihatan kabur.
• Lakukan pemeriksaan darah secara rutin.
g. Berduka berhubungan dengan kehilangan actual dan potensial.
• Kaji tahapan berduka pada anak dan keluarga.
• Berikan dukungan pada respon adaptif yang diberikan klien.
• Luangkan waktu bersama anak untuk memberikan dukungan pada anak.
• Fasilitasi anak untuk mengekspresikan perasaannya melalui bermain.
h. Gangguan pemenuhan kebutuhan aktivitas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan.
• Beri waktu yang cukup untuk istirahat.
• Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.
• Kaji adanya laporan kelemahan.
• Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktivitasnya.
(Suriadi & Yulianni, 2006: 164)





Tidak ada komentar: